Tren penggunaan mobil listrik di Indonesia semakin naik dari tahun ke tahun. Perbedaan mobil EV dan sejumlah keunggulannya dibandingkan mobil konvensional menjadi daya tarik tersendiri. Banyak orang berminat membeli mobil listrik karena kelebihan dari segi hemat energi, ramah lingkungan, hingga teknologi yang sesuai gaya hidup modern.
Meningkatnya pemakai mobil listrik terbukti dari penjualan produk EV yang makin moncer. Dari data GAIKINDO, penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobil listrik tembus sebanyak 23.945 unit pada rentang Januari-Agustus 2024 lalu. Jumlah penjualan tersebut lebih tinggi 177,32 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Kebutuhan untuk memiliki mobil listrik juga didukung dengan adanya berbagai jenis EV. Terdapat 4 jenis mobil listrik di pasaran global, mulai dari BEV, HEV, PHEV, dan FCEV. Bagi kamu yang berencana membeli, sebaiknya pahami dulu perbedaan mobil EV dari empat jenis tersebut dan apa saja keunggulannya.
Apa itu Mobil Listrik? Begini Cara Kerjanya
Mobil listrik merupakan inovasi baru dalam dunia otomotif untuk menjawab kebutuhan berkendara lebih modern dan berkelanjutan. Berbeda dengan mobil konvensional, mobil listrik dirancang sebagai kendaraan yang menggunakan tenaga listrik dari baterai.
Mobil listrik dihadirkan untuk mendukung peralihan dari penggunaan bahan bakar fosil berganti memakai tenaga listrik. Penggunaan teknologi baterai pada mobil listrik dapat memberikan efisiensi tinggi dengan emisi karbon rendah. Perbedaan mobil EV dengan mobil BBM dan cara kerjanya bisa dikenali dari beberapa hal ini:
- Penyimpanan Energi pada Baterai: Mobil listrik menggunakan energi yang disimpan dalam baterai. Daya pada baterai mobil ini dapat diisi ulang lewat stasiun pengisian daya (charging station) dan mempunyai sistem manajemen baterai untuk menjaga suhu, tegangan, dan arus tetap stabil.
- Konversi Tenaga Listrik ke Tenaga Mekanis: Motor listrik mengkonversi energi listrik menjadi energi mekanis yang memutar roda melalui sistem transmisi sederhana.
- Pengelolaan Energi oleh Sistem Kendali: Sistem kendali elektronik mengatur aliran energi antara baterai, inverter, dan motor listrik sesuai kebutuhan. Ketika mobil melambat, sistem pengereman regeneratif mengubah energi kinetik menjadi listrik dan menyimpannya kembali di baterai.
Berikut ini beberapa dampak positif dari menggunakan mobil listrik untuk lingkungan:
- Mengurangi Emisi Karbon: Tidak menghasilkan emisi gas buang, sehingga turut berkontribusi menekan pemanasan global.
- Mengurangi Polusi Suara: Motor listrik lebih senyap dibandingkan mesin pembakaran internal, sehingga tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu.
- Efisiensi Energi: Lebih efisien dalam penggunaan energi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.
- Mendorong Energi Terbarukan: Meningkatkan permintaan energi bersih dari sumber seperti matahari dan angin.
- Mengurangi Polusi Udara: Membantu menjaga kualitas udara lebih bersih, khususnya di perkotaan.
Perbedaan Mobil EV: BEV, HEV, PHEV, dan FCEV
Secara umum terdapat 4 jenis mobil listrik yang dijual di pasar global. Meski sama-sama dirancang untuk menggunakan energi dari tenaga listrik, setiap jenis EV memiliki prinsip kerja yang berbeda. Ada mobil EV yang mengandalkan tenaga listrik secara penuh dan ada pula yang memakai tenaga elektrifikasi sebagian.
Jadi pastikan kamu mengenali lebih dulu masing-masing spesifikasi atau karakteristik jenis mobil EV agar bisa memilih yang sesuai kebutuhan. Berikut ini perbedaan mobil EV dari BEV, HEV, PHEV, dan FCEV.
1. Mobil BEV (Battery Electric Vehicle)
Mobil listrik BEV adalah kendaraan yang mengandalkan tenaga listrik sebagai sumber utama untuk menggerakkan mesinnya. Energi ini disimpan dalam baterai khusus yang dapat diisi ulang dengan menyambungkannya ke sumber listrik eksternal.
Cara kerja mobil BEV cukup sederhana, yaitu dengan mengubah arus listrik searah (DC) dari baterai menjadi arus bolak-balik (AC). Ketika pedal akselerator ditekan, sinyal akan dikirimkan ke modul kendali untuk menyesuaikan kecepatan kendaraan dengan mengatur frekuensi daya AC yang dikirim ke motor induksi.
Motor inilah yang berfungsi menggerakkan roda melalui sistem roda gigi. Saat kendaraan memperlambat laju, motor akan berperan sebagai generator yang menghasilkan energi listrik dan menyimpannya kembali di baterai.
Keunggulan mobil listrik BEV adalah tidak adanya mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine). Listrik disimpan di dalam battery pack yang dapat diisi kembali melalui koneksi ke saluran listrik eksternal. Namun jenis EV ini punya kekurangan dari segi jarak tempuh yang mungkin masih terbatas dan harganya yang lebih mahal.
Di Indonesia, beberapa contoh mobil listrik BEV yang populer adalah Wuling Air EV dan Hyundai Ioniq. Kedua kendaraan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah. Selain itu, mobil listrik jenis BEV juga dibebaskan dari aturan ganjil-genap di sejumlah wilayah tertentu.
2. Mobil HEV (Hybrid Electric Vehicle)
HEV merupakan jenis mobil listrik yang menggabungkan dua sistem penggerak, yaitu mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) dan motor traksi listrik. Mesin pembakaran dalam mendapatkan energi dari bahan bakar minyak (BBM), sementara motor traksi memperoleh daya dari baterai.
Kedua sistem tersebut dapat bekerja bersamaan untuk memutar transmisi dan menggerakkan roda kendaraan. Proses pengereman mobil HEV memiliki peran penting dalam pengisian ulang baterai. Saat pengereman, motor traksi akan beralih menjadi generator yang menghasilkan energi listrik dan menyimpannya ke dalam baterai.
Karena energi baterai dihasilkan secara otomatis saat pengereman, mobil ini tidak memerlukan charging port. Daya baterainya tidak dapat diisi ulang melalui sumber listrik eksternal seperti jaringan PLN. Meskipun menggunakan motor listrik, HEV tetap memerlukan BBM untuk mengoperasikan mesin pembakaran dalamnya.
Oleh karena itu, mobil BEV dilengkapi dengan tangki bahan bakar layaknya mobil konvensional. Di Indonesia, salah satu contoh mobil listrik jenis HEV yang cukup dikenal adalah Toyota Innova Zenix HEV.
Baca Juga: Jenis Mobil Hybrid yang Mendapat Diskon PPnBM, Berlaku 1 Januari 2025
3. Mobil PHEV (Plug-In Hybrid Electric Vehicle)
PHEV merupakan jenis mobil listrik yang menggunakan dua sistem penggerak, yaitu mesin pembakaran dalam (ICE) dan motor traksi listrik. Berbeda dengan HEV, mobil listrik jenis ini dapat menggunakan tiga sumber energi, yaitu baterai, bensin, dan biodiesel.
Cara kerja mobil PHEV dimulai dengan mode all-electric, di mana kendaraan sepenuhnya mengandalkan tenaga listrik hingga baterai habis. Ketika melaju dengan kecepatan stabil, biasanya di atas 60 hingga 70 mil per jam, mobil dapat beralih ke mode hybrid. Jika baterai telah habis, mesin pembakaran akan secara otomatis mengambil alih tenaga mobil.
Keunggulan utama PHEV terletak pada kemampuan pengisian baterai melalui sumber listrik eksternal menggunakan charging port. Selain itu, baterai juga dapat terisi secara otomatis melalui proses pengereman yang memanfaatkan energi kinetik. Namun ada kekurangannya, mobil ini memerlukan biaya perawatan lebih mahal.
Di Indonesia, beberapa model mobil listrik PHEV mampu menempuh jarak lebih dari 70 mil hanya dengan tenaga listrik. Salah satu contoh kendaraan PHEV yang tersedia di pasar Indonesia adalah All New Toyota PRIUS PHEV.
4. Mobil FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle)
Mobil listrik FCEV memanfaatkan teknologi sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Prinsip kerjanya serupa dengan BEV, namun FCEV memiliki sistem mandiri yang memproduksi listrik dari sel bahan bakar.
Daya listrik dari mobil FCEV dihasilkan melalui reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen yang menghasilkan daya cukup besar untuk menggerakkan kendaraan. Dibandingkan dengan jenis mobil listrik lainnya, FCEV merupakan teknologi yang relatif baru sehingga penggunaannya belum sepopuler BEV, HEV, maupun PHEV.
Meskipun sudah mulai dipasarkan secara global, kendaraan listrik jenis ini belum tersedia di pasar Indonesia. Salah satu model FCEV yang sudah diproduksi adalah Hyundai Nexo. Mobil ini dilengkapi dengan tangki hidrogen berlapis tiga, termasuk material serat karbon berkekuatan tinggi, dan didukung oleh perangkat keamanan canggih.
Bagaimana Cara Menentukan Mobil EV yang Tepat Untuk Berkendara Harian?
Setelah mengenali perbedaan mobil EV dari empat jenis di atas, kamu mungkin sudah punya pandangan mana yang cocok untuk kebutuhanmu. Namun selain memahami cara kerja dan sistem elektrifikasinya, masih ada beberapa faktor lain yang juga perlu kamu pertimbangin.
Berikut ini beberapa tips membeli mobil listrik bagi pemula agar kamu nggak salah pilih mobil:
1. Mengetahui Jarak Tempuh Harian
Salah satu hal yang sangat penting untuk kamu pertimbangkan adalah jarak tempuh dari mobilnya. Perhitungkan rata-rata jarak tempuh harian untuk memastikan bahwa kapasitas baterai kendaraan sesuai dengan mobilitasmu, baik untuk perjalanan dalam kota maupun jarak jauh.
Misalnya jika rata-rata jarak tempuh harian Anda sekitar 50 km, mobil listrik dengan kapasitas baterai yang lebih kecil sudah cukup. Untuk perjalanan dalam kota yang umumnya lebih pendek, mobil listrik dengan jarak tempuh 200-300 km per pengisian daya penuh sudah memadai.
Namun jika Anda sering melakukan perjalanan jarak jauh atau memiliki rutinitas yang padat, mobil dengan jarak tempuh lebih jauh akan lebih cocok. Untuk perjalanan jarak jauh atau kebutuhan yang lebih intens, mobil dengan jarak tempuh 400-500 km atau lebih akan lebih ideal.
Selain itu, perlu diingat bahwa efisiensi baterai mobil listrik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti cuaca, gaya berkendara, dan beban kendaraan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor ini saat memilih mobil listrik agar dapat memaksimalkan efisiensi dan jarak tempuh sesuai kebutuhan harian.
2. Pahami tentang Biaya Operasional dan Perawatan
Biaya operasional dan perawatan juga menjadi salah satu perbedaan mobil EV dan mobil konvensional. Secara umum, biaya operasional mobil listrik cenderung lebih rendah. Biaya pengisian daya listrik biasanya lebih murah daripada biaya bahan bakar fosil, terutama jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik domestik.
Selain itu, mobil listrik memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi, sehingga energi yang digunakan per kilometer lebih sedikit. Namun perlu diperhatikan juga biaya instalasi charger di rumah yang bisa menguras pengeluaran di awal.
Dari segi kebutuhan perawatan, mobil listrik bisa lebih hemat karena tidak memerlukan penggantian oli mesin atau perawatan komponen pembakaran internal. Namun ada potensi biaya besar yang perlu diantisipasi, seperti penggantian baterai setelah jangka waktu tertentu. Karenanya kamu perlu tau cara merawat baterai mobil listrik agar awet, selengkapnya ada di artikel ini.
Dengan demikian, mobil listrik umumnya menawarkan biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah dalam jangka panjang dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Garansi baterai dan efisiensi energi yang tinggi menjadi faktor penting yang membuat mobil listrik semakin menarik dari segi biaya.
3. Sesuaikan dengan Kebutuhan
Memilih mobil listrik yang tepat harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna agar dapat memberikan kenyamanan dan fungsionalitas maksimal. Untuk keluarga kecil, mobil listrik dengan kapasitas 4-5 penumpang mungkin sudah cukup. Sementara keluarga besar mungkin membutuhkan SUV dengan 7 kursi.
Ukuran bagasi juga perlu dipertimbangkan, terutama jika sering membawa barang belanjaan dalam jumlah banyak atau perlengkapan liburan. Selain itu, beberapa pengguna mungkin lebih mementingkan fitur hiburan dan keselamatan, seperti layar infotainment canggih, sistem audio premium, atau teknologi bantuan pengemudi (ADAS).
Pilihan model mobil listrik sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Untuk aktivitas perkotaan, mobil hatchback listrik bisa menjadi pilihan ideal karena ukurannya yang kompak dan mudah bermanuver. Bagi keluarga, SUV listrik menawarkan ruang yang lebih luas dan kapasitas bagasi yang besar.
4. Periksa Akses ke Infrastruktur Pengisian Daya
Mempertimbangkan akses ke infrastruktur pengisian daya menjadi langkah penting saat akan membeli mobil listrik. Ketersediaan stasiun pengisian daya atau SPKLU mempengaruhi kemudahan dan kenyamanan menaiki mobil listrik, baik untuk perjalanan harian maupun perjalanan jarak jauh.
Ada dua jenis pengisian daya yang umum tersedia, yaitu pengisian normal (AC charging) dan pengisian cepat (DC fast charging). Di Indonesia, stasiun pengisian daya sudah mulai tersebar di berbagai lokasi strategis, seperti pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, rest area jalan tol, dan area publik lainnya.
Untuk memudahkan pencarian charger station, kamu bisa memanfaatkan aplikasi peta atau aplikasi khusus yang disediakan produsen mobil listrik. Aplikasi ini biasanya menampilkan lokasi, jenis pengisian, serta ketersediaan stasiun secara real-time.
5. Lakukan Test Drive untuk Pengalaman Langsung
Test drive perlu dilakukan untuk menjajal langsung bagaimana kenyamanan, performa, dan fitur-fitur yang ditawarkan. Saat test drive, kamu bisa merasakan akselerasi yang halus dan responsif, pengendalian yang stabil, serta kesenyapan kabin yang menjadi ciri khas mobil listrik.
Selama test drive, kamu juga perlu mencoba fitur unik pada mobil listrik, seperti regenerative braking, sistem infotainment, dan mode berkendara. Selain itu, penting untuk mencoba simulasi pengisian daya, termasuk memahami cara kerja port pengisian dan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya.
Perhatikan juga sisi ergonomi dan visibilitas mobil, termasuk posisi duduk, kemudahan mengakses kontrol, dan jarak pandang pengemudi. Rasakan bagaimana respons kendaraan terhadap berbagai kondisi jalan, seperti jalan berlubang, tanjakan, atau tikungan. Jangan lupa untuk memperhatikan kebisingan kabin dan kenyamanan penumpang belakang.
Itulah tadi ulasan perbedaan mobil EV empat jenis dari segi karakteristik, cara kerja, dan kelebihan maupun kekurangannya. Saat berencana membeli mobil listrik, pastikan kamu mempertimbangkan sejumlah hal, mulai dari jenis EV, jarak tempuh, biaya operasional, dan lainnya. Baca artikel otomotif lainnya di oto24.id dan follow info update di media sosial IG @oto24.id.